Warga Palestina Demonstrasi Tolak Aneksasi

Warga Palestina Demonstrasi Tolak Aneksasi

Warga Palestina berdemo di Ramallah dan Gaza menetang perebutan Tepi Barat

REPUBLIKA. CO. ID, TEPI BARAT — Menteri Asing Negeri Israel Gabi Ashkenazi mengatakan pengumuman rencana aneksasi tidak mau segera terjadi, Rabu (1/7). Meski keputusan Israel mencaplok sepertiga lantaran Tepi Barat yang telah diduduki secara ilegal kemungkinan akan ditunda, warga Palestina tetap mengadakan penolakan di Ramallah dan Kota Gaza.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengumumkan hendak memulai aneksasi pada 1 Juli. Namun, Ashkenazi menyatakan kemungkinan itu tidak akan tepat waktu serta memilih untuk Netanyahu menjelaskan bertambah rinci.

Tapi, kira-kira 150 demonstran Palestina berkumpul di dalam Rabu malam di pusat Ramallah untuk mengecam rencana pencaplokan tersebut. Mereka mengatakan meskipun ada deklarasi yang ditunda, pencaplokan masih mampu saja terjadi.

Dengan membawa poster dan mengibarkan alam Palestina, banyak warga meneriakkan slogan-slogan anti-pendudukan. Beberapa meneriakan “Hentikan, hentikan pendudukan” dan “Kami akan menetap sampai pembebasan penuh. Kami tidak akan pergi”.

“Ini adalah sejarah yang berulang. Rancangan aneksasi adalah satu lagi Nakba [bencana] dan Naksa [hari kemunduran], ” ujar Zeina Mustafa saat melakukan demonstrasi itu.

Zeina merujuk dalam eksodus Palestina 1948 yang membabitkan lebih dari 700 ribu karakter Arab Palestina terusir dari vila dan pengumuman berdirinya negara Israel. Dia pun menyinggung peristiwa 1967 dengan enam hari perang era Israel mengambil kendali atas Sembiran Barat dari Yordania dan Rel Gaza dari Mesir.

Bagi Belal Gaith yang ialah warga Ramallah, rencana aneksasi mau mendorong warga Palestina lebih jauh di bawah pendudukan dan tadbir militer. “Segera setelah rencana penguasaan diumumkan, itu akan menjadi akhir dari Kesepakatan Oslo, ” katanya merujuk pada perjanjian 1993 dengan membentuk Otoritas Palestina (PA).

Banyak warga Palestina percaya rencana aneksasi itu hanya formalitas dan pendudukan Israel secara de facto telah berlangsung selama bertahun-tahun. “Rencana aneksasi Israel telah dalam proses sejak 1967, ” introduksi koordinator kampanye anti-pendudukan yang disebut Komite Populer untuk Menolak Dinding dan Permukiman, Salah Khawaja.

“Israel sejak itu telah membangun permukiman dan tembok. Oleh sebab itu, aneksasi telah berlangsung lama, ” kata Salah dikutip dari Aljazirah.

Aneksasi yang dikerjakan Israel merupakan langkah lanjutan dibanding rencana Timur Tengah dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump di dalam Januari. Proposal tersebut ingin membuat negara Palestina yang terdemiliterisasi pada atas tambalan wilayah yang sudah terpencar.

Menteri Pertahanan Benny Gantz mengatakan pekan berarakan aneksasi harus menunggu sampai krisis virus corona berakhir. Para penguasa militer dan intelijen Israel pula telah memperingatkan langkah itu bisa menyebabkan pemberontakan di Tepi Barat, yang akan menjadi risiko kesejahteraan besar bagi Israel. Lebih jauh lagi, rencana tersebut telah mendapat kecaman dari publik dan  para-para pemimpin Palestina, serta komunitas ijmal.