Tokoh Lintas Agama Serukan Tetap Beribadah di Rumah

Tokoh Lintas Agama Serukan Tetap Beribadah di Rumah

Tipu lintas agama menegaskan ibadah di tempat ibadah ditiadakan.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA – Para atasan lintas agama menyampaikan pesan yang serupa kepada semua umatnya dalam bertemu pandemi Covid-19 ini termasuk menyimpan diri dan melindungi sesama.    

Bagi pengikut Muslim yang akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, Menteri Petunjuk, Fachrul Razi, berpesan untuk melayani takbir, sholat Idul Fitri & berlebaran di rumah. Melalui kecanggihan teknologi digital, umat Islam pula dapat bersilaturahmi melalui media baik.  

Perihal tradisi mudik, Fachrul menyampaikan agar umat Islam tidak pegangan tahun ini demi mencegah penyaluran Covid-19.  

“Berlebaran di rumah selalu bersama keluarga inti. Tidak usah kemana-mana, dan tidak usah menerima tamu, ” ujarnya.

Menteri Agama meminta umat Islam tetap merayakan Hari Idul Fitri ini dengan kepuasan, tapi dengan tetap menaati protokol kesehatan.  

Dia menegaskan, silaturahim tidak harus ketemu fisik. Silaturahim terjadi tidak hanya karena kedekatan fisik, tapi juga karena kedekaatan moral.        

Dewan Biarawan Pengurus Pusat Majelis Tinggi Pegangan Khonghucu Indonesia, Xs Budi S Tanuwibowo, menyampaikan fenomena Covid-19 sudah menyadarkan setiap orang bahwa penuh hal yang belum bisa diatasi manusia dengan segala pencapaiannya semasa ini.  

“Bangunan dan tatanan kesehatan, perekonomian, bisnis, pertahanan, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan bahkan pegangan semuanya dibuat tak berdaya sebab jasad renik yang teramat mungil tak kasat mata yang lumrah sebagai Covid-19, ” ujar Budi  seperti dalam keterangan tertulis dengan diterima Republika. co. id, Jumat (22/5).

Menyikapi kondisi ini, Budi mengundang umat Khonghucu Indonesia untuk bertambah dispilin menjalankan anjuran dan kesimpulan protokol kesehatan. Imbauan juga pihaknya sampaikan kepada saudara-saudari sebangsa setanah air bersama-sama tanpa kecuali.  

“Ibarat perjalanan di jalan raya, kesejahteraan kita tidak hanya ditentukan sebab kedisiplinan dan kehati-hatian kita sendiri orang per orang, tapi juga oleh seluruh pengguna jalan bersama-sama. Kecerobohan seseorang bisa menghancurkan segenap, ” pesan Budi.

Hal senada disampaikan pemimpin gereja Katolik Pastor Fredy Rante Taruk. Dia mengatakan, gereja selalu mengajarkan kepada umatnya urusan untuk bertindak demi kesejahteraan bergabung.    

“Pada masa pandemi tersebut, aturan pemerintah tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB), social distancing, work from home atau stay at home merupakan usaha untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi kesehatan tubuh publik dan kebaikan bersama, ” ujarnya.

Pastor Fredy berpesan bahwa dalam dasarnya, protokol pencegahan penyebaran Covid-19 ini cukup efektif dengan bersandar pada perilaku hidup bersih dan sehat.  

Dia mencontohkan dengan menggalibkan diri mencuci tangan dengan sabun setelah dan sebelum beraktivitas, menggunakan masker apabila berada di tempat umum dan menjaga jarak fisik antar individu sejauh dua meter.

Semenjak situasi darurat pandemi COVID, Gereja Katolik melalui keuskupan di 37 wilayah seluruh Indonesia mengeluarkan imbauan untuk meniadakan kegiatan di lingkungan gereja, baik liturgi maupun nonliturgi. Kepentingan terhadap perlindungan publik dengan lebih luas menjadi pertimbangan istimewa yang paling utama.  

Sementara tersebut, Pendeta Jacklevyn Manuputty juga mengimbau umat Kristiani untuk melawan penyebaran Covid-19.

“Dalam terang pengakuan ini, kita terpanggil untuk terus membela, menyelenggarakan, dan memberikan kehidupan, bukan sebaliknya mengancam kehidupan. Panggilan ini kudu menjadi nyata dalam upaya kita untuk melawan Covid-19, yang salah satunya melalui kepatuhan kita terhadap anjuran pemerintah untuk berdiam dalam rumah, ” ujar Pendeta Jacklevyn yang juga Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Jacklevyn selalu menyampaikan bahwa penting untuk dikerjakan semua umat demi memutus lengah rantai penyebaran virus korona ini.  

“Tahanlah hasrat anda untuk melaksanakan berbagai bentuk perjalanan yang dapat membesarkan potensi penularan Covid-19, ” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan pemuka agama Budha, Hong Tjhien, sebab Yayasan Buddha Tzu Chi. Menurutnya, ajaran guru Buddha tentang mindfulness dan awareness meminta umatnya buat tidak lengah dan tetap waspada.  

“Sebagai umat Buddha, kita beriktikad hukum sebab akibat dan interdependensi. Keluar dari wabah ini tidak bisa lepas dari usaha kita sendiri, ” ujarnya.

Adapun pemuka umat Hindu, Nyoman Suartanu, dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), memasukkan bahwa saat ini pemerintah sudah memberikan petunjuk yang jelas dengan jalan apa kita hidup dalam wabah korona.  

“Petunjuk itu tentunya telah meniti kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi umat beragama, kita wajib mematuhi anjuran pemerintah ini dalam bingkai ketaatan kepada agama kita, ” ujarnya.