mes-australia-gelar-workshop-koperasi-syariah-1

TANGSI Australia Gelar Workshop Koperasi Syariah

Komunitas diaspora Indonesia pada Australia memerlukan lembaga keuangan syariah.

REPUBLIKA. CO. ID, SYDNEY – Pengurus Wilayah Khusus Kelompok Ekonomi Syariah (PWK MES) Australia kembali menggelar event yang terutama ditujukan untuk warga diaspora Indonesia pada Australia. Workshop tersebut, yang digelar pada Sabtu (24/7) lalu, mengambil tajuk “Pendirian dan Pengembangan Koperasi Syariah di Australia”.

Dengan komunitas diaspora Nusantara yang cukup besar dalam Negeri Kanguru, sejak lama dipandang perlu untuk mengasaskan lembaga-lembaga keuangan syariah berperan mengakomodasi kebutuhan warga diaspora yang bermukim di Australia. Keinginan mulia tersebut mampu dimulai salah satunya menggunakan lembaga yang berbentuk koperasi, khususnya koperasi syariah.

Dalam sambutannya, Ketua Umum MES Australia Shaifurrokhman Mahfudz mengungkapkan, terbentuknya lembaga-lembaga atau perhimpunan ekonomi diharapkan dapat menjadi medan untuk saling dukung serta saling membantu di kurun sesama warga diaspora, serta menjadi kesempatan menerapkan nilai-nilai Islam yang universal.

“Australia merupakan negara terbuka dan demokratis. Peraturan perundang-undangan di level nasional maupun negara arah menyuarakan hal yang serupa terkait dukungan atas multikulturalisme. Dengan demikian, setiap orang tanpa memandang latar perempuan punya kesempatan yang serupa. Siapa pun bisa berkompetisi dengan sehat dan fair, ” papar Shaifurrokhman, yang serupa menekankan spirit berlomba-lomba di dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Workshop online dengan berlangsung lebih kurang tiga jam ini diikuti dengan antusias oleh sekitar 80 orang peserta. Berbagai organisasi dan komunitas diaspora Indonesia di Australia, baik yang sudah maupun belum menyelenggarakan lembaga koperasi, mengirimkan peserta mereka dalam kegiatan itu. Di samping itu, workshop juga diikuti oleh bermacam-macam kalangan pelaku dan pemerhati ekonomi dan keuangan syariah, baik di Tanah Minuman maupun mancanegara seperti Malaysia dan Mesir.

Wakil Kepala Peserta Kedutaan Besar Republik Nusantara (KBRI) Canberra, Mohammad Syarif Alatas, dalam opening speech-nya menggarisbawahi pentingnya agenda workshop semacam ini. Menjadi tumpuan bersama agar bangsa Nusantara, baik di Tanah Cairan maupun komunitas diaspora di Australia, dapat memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang terbuka lebar pasca-diratifikasinya The Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), terlebih di tengah hubungan bilateral yang elok dan solid di antara kedua negara.

“Semoga acara hari ini menjadi langkah kausa dari berbagai program TANGSI dalam memanfaatkan kerja  persis ekonomi Indonesia-Australia yang sudah terjalin erat, sehingga kita dapat saling mengisi serta bekerja sama, termasuk pada bidang industri halal dan industri sektor keuangan, ” ujar  Syarif seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika. co. id.

Workshop ini membawa enam orang pemateri sebab beragam latar belakang, baik yang bermukim di Nusantara maupun Australia. Masing-masing rujukan memaparkan topik tertentu sesuai keahlian dan pengalaman per. Adapun tiga narasumber perdana adalah Baiq Mulianah (rektor Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat), Muhamad Abduh (anggota Indonesian Muslim Community of Victoria), dan Aditya Agusetyawan (pendiri Koperasi CIDE, Sydney).

Baiq, yang juga ketua umum MES NTB mengikuti peraih Penghargaan Nasional Dalang Keuangan Mikro Syariah dari OJK, membagikan pandangannya menimpa strategi pengembangan program koperasi syariah. Di antara aspek-aspek yang harus diperhatikan oleh pengurus koperasi syariah adalah meningkatkan kemandirian, memperkuat edukasi kepada anggota, menjalin kegiatan sama antarkoperasi, melakukan transformasi digital, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan koperasi.

Sementara itu, Muhamad Abduh menjabarkan seperangkat regulasi mengenai koperasi di Australia. Pria yang telah lama bermukim di Melbourne ini menekankan pentingnya komunitas diaspora mempunyai pemahaman mengenai regulasi setempat. Meskipun cenderung kompleks, berbagai regulasi tersebut mutlak dipenuhi untuk mendirikan koperasi yang beroperasi secara legal dan memberikan jaminan bahwa koperasi dikelola dengan amanah.  

Abduh juga memaparkan kisah sukses beberapa lembaga keuangan syariah di Negeri Kanguru dengan bermula dari format koperasi, antara lain Muslim Community Cooperative of Australia (MCCA) yang hingga hari ini sudah menyalurkan pembiayaan hunian senilai lebih dari 2 miliar dolar Australia. “Potensi diaspora Indonesia untuk mendirikan koperasi ini sangat besar, terlebih kita punya sumber daya, juga masjid-masjid yang dikelola oleh komunitas Indonesia. Benar masih ada tantangannya, namun kalau bisa kita wujudkan, akan menjadi wadah yang merekatkan sesama warga diaspora Indonesia, ” tutur Abduh.

Selanjutnya, Aditya Agusetyadi menceritakan pengalamannya mendirikan koperasi di organisasinya, Centre for Islamic Seruan and Education (CIDE) New South Wales. Diungkapkannya kalau koperasi yang baru maujud beberapa bulan lalu tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan buat melayani dan memfasilitasi jamaah, menindaklanjuti demand dari bagian komunitas, dan menjadi lengah satu sumber pendanaan kesibukan dakwah CIDE NSW. “Ada banyak peluang di periode depan dengan berdirinya koperasi ini, yaitu profit hendak masuk ke CIDE NSW, diversifikasi usaha, pengalaman kerja untuk para volunteer, mengikuti mendukung produk-produk Indonesia, ” ujar Aditya.

Sesi kedua workshop MES Australia ini diisi oleh tiga narasumber, yakni Faqih Nabhan (wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Usaha Islam IAIN Salatiga), Shaifurrokhman Mahfudz (ketua umum ASRAMA Australia), dan Ranggapati Siswara Dewantoro (PT Vascomm Solusi Teknologi). Masing-masing memaparkan arah akuntansi dan penganggaran, norma syariah, dan teknologi bahan dalam pengelolaan koperasi syariah.

Faqih menguraikan berbagai aspek teknis dalam proses penganggaran & pelaporan keuangan koperasi syariah. “Jadi kesimpulannya bahwa akuntansi itu sangat penting bagi kegiatan operasional sebuah koperasi. Oleh karena itu, diperlukan sistem dan aplikasi akuntansi yang memadai untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan koperasi, ” tutur Faqih.

Dari bagian fiqih koperasi syariah, Shaifurrokhman menyampaikan filosofi luhur ekonomi syariah dengan empat fondasinya, yaitu akidah, syariah, budi bahasa, dan ukhuwah. Selanjutnya, ia menggarisbawahi perbedaan antara fiqih ibadah dan fiqih muamalah, serta transaksi-transaksi dalam pengelolaan koperasi syariah.

Terakhir, Ranggapati menjabarkan aspek teknologi informasi & software untuk mendukung kegiatan operasional koperasi syariah. Selaras dengan Baiq dan Faqih, ia juga menegaskan kalau era sekarang ini menuntut semua aktivitas bisnis dilaksanakan secara terdigitalisasi dan tidak mengandalkan sistem manual semata, termasuk dalam pengelolaan sebuah koperasi syariah.

Dihubungi di Sydney, Shaifurrokhman mengungkapkan kesyukuran pihaknya bahwa kegiatan workshop tersebut dapat berlangsung dengan mampu dan turut dihadiri oleh perwakilan pengurus berbagai organisasi dan komunitas diaspora Nusantara di Negeri Kanguru. Barang apa yang diperoleh dalam acara ini diharapkan dapat menjelma bekal yang memadai dan selanjutnya memotivasi warga diaspora Indonesia untuk mempercepat pembentukan koperasi syariah di sistem dan komunitas masing-masing.

“Semoga secara penyelenggaraan workshop koperasi syariah ini, kita bersama sanggup meniti jalan menuju kemerdekaan ekonomi dan menebar kemaslahatan yang semakin luas, khususnya bagi bangsa Indonesia tertib komunitas diaspora di Australia maupun di Tanah Minuman, ” pungkasnya.