Pribadi Silver dan Anjal Diangkut Satpol PP Tasikmalaya

Pribadi Silver dan Anjal Diangkut Satpol PP Tasikmalaya

Keberadaan mereka itu dianggap mengganggu kehidupan pengguna jalan.

REPUBLIKA. CO. ID, TASIKMALAYA — Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya mendatangkan razia anak jalanan yang dianggap mengganggu aktivitas masyarakat. Hasilnya, terdapat 14 anak jalanan, badut pengamen, manusia silver, pengemis, dan pengamen topeng monyet.

Kepala Tempat Ketertiban Umum dan Ketentraman Bangsa, Satpol PP Kota Tasikmalaya, Yogi Subarkah mengatakan, razia itu dilakukan atas dasar laporan masyarakat dengan merasa terganggu dengan aktivitas itu. Menurut dia, saat ini kehadiran mereka dianggap semakin banyak, makin selama pandemi Covid-19.

“Hampir tiap hari kita operasi, itu bertambah banyak. Alasannya komunitas. Kita tak melarang mereka berusaha, akan tetapi jangan di tempat umum, makin di perempatan jalan, ” sirih dia, Kamis (10/9).

Menurut dia, keberadaan mereka itu dianggap mengganggu acara pengguna jalan. Sebab, pihaknya selalu sering mendapat laporan keluhan klub.

Untuk mengantisipasi kegiatan mengganggu aktivitas pengguna jalan, Satpol PP akan hidup sama dengan Dinas Perhubungan. Nantinya, aktivitas di jalan raya akan diawasi melalui kamera pengawas (CCTV).   “Kalau itu beroperasi, akan ditertibkan, ” kata dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Rehabilitasi, Tuna Sosial, dan Napza, Biro Sosial Kota Tasikmalaya, Nining Rukmini mengatakan, mereka yang terjaring razia adalah yang sudah biasa terperangkap. Kebanyakan dari yang tertangkap berasal dari luar kota Tasikmalaya, makin ada yang berasal dari Jawa Tengah.

“Tadinya kita akan lakukan pelatihan kepada mereka. Namun karena tersedia Covid-19, kegiatan tahun ini tak bisa dilakukan. Mungkin tahun depan, ” kata dia.  

Menurut tempat, mereka yang terjaring razia kala ini hanya akan didata & diberikan pemahaman agar tak mengulangi perbuatannya. Kendati demikian, jika pihaknya melakukan pelatihan, mereka akan diikutsertakan.  

Nining mengatakan, Dinas Sosial sudah berupaya maksimal untuk mengubah kepribadian para pengamen itu. Namun, kebanyakan dari yang telah mendapatkan pelatihan kembali lagi ke jalanan.

“Alasan mereka kenbali adalah ekonomi. Padahal kalau dikasih bantuan, bisa bekerja denhan itu. Namun, menurut mereka mencari uang di jalan lebih gampang, ” kata dia.

Sementara itu, salah seorang manusia silver yang tertangkap, Deni Ramdani (25 tahun) mengaku baru-baru ini menjalani kegiatannya itu. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pekerja bangunan. Namun adanya pandemi Covid-19, pekerjaan membangun menjadi sepi.

“Ya kami kan harus tetap menghidupi tim. Makanya jadi manusia silver sama teman-temannya lainya, membuat komunitas, ” kata lelaki yang biasa memiliki uang Rp 70 ribu pada sehari dari menjadi manusia silver itu.

Menurut dia, uang yang didapatkannya itu sebagian dikumpulkan untuk kas masyarakat. Setiap bulan, uang yang terkumpul di komunitas itu digunakan buat membeli nasi kotak dan dibagikan kepada para pengemis.