Pesan Setelah Ramadhan dari Imam Shamsi Ali

Pesan Setelah Ramadhan dari Imam Shamsi Ali

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Bulan Ramadhan sudah berlalu. Bagi seorang Mukmin, berlalunya bulan penuh pengampunan dan pahala ini seperti peluang besar yg juga ikut pergi.

Imam Besar New York Shamsi Ali mengungkapkan, di saat-saat misalnya ini, seorang qayyis (berakal dan bijak) tentu akan melakukan introspeksi maka akan hari-hari yang berlalu itu. Apakah bulan Ramadhan tahun ini sudah dijalankan dengan maksimal atau berlalu tanpa makna.

“Setiap insan Mukmin sejatinya memang selalu berada di antara dua lembah (al-khauf wa ar-rajaa). Lembah kekhawatiran, jangan-jangan Ramadhan berlalu tanpa arti maksimal atau mungkin merugi? Dan lembah harapan, semoga Ramadhan yg telah berlalu membawa makna-makna bernilai dan maksimal baginya, ” ucap Imam Shamsi Ali dalam pesan yang didapat Republika , Ahad (24/5).

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh makna dan harga. Bulan ini selalu dirindukan umat Muslim untuk mengakumulasi berbagai kebaikan dan bekal hidup. Baik bekal hidup kesementaraan (fana), apalagi bekal (zaad) bagi kehidupan masa depannya yang abadi.

Bulan puasa juga berarti bulan ubudiyah dengan segala manifestasinya. Bulan puasa, bulan qiyaam, bulan dzikrullah, bulan maghfirah, bulan ihsan, tidak merupakan al-qurbah, bulan hidayah dan Al-Quran, bulan kebajikan dan sadaqah, bahkan bulan kebersamaan dan Komunitas.  

Namun di antara semua keistimewaan yang ada, bulan Ramadan sesungguhnya adalah bulan “tarbiyah”. Bulan bagi setiap Mukmin melakukan pelatihan diri, atau mendidik diri untuk menjadi insan yang lebih baik.

“Proses ini saya istilahkan sebagai transformasi hidup di bulan Ramadan. Proses demi proses atau transformasi hidup seorang Mukmin menuju kepada kesempuranaan Islam adalah proses yang berkelanjutan hingga akhir hayatnya, ” lanjutnya.

Merujuk kepada salah satu firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dengan takwa yang sesungguhnya. Dan janganlah mati kecuali kamu dalam keadaan Muslim”.

Proses yang berkesinambungan ini diistilahkan dengan “transformasi” atau perubahan mendasar hidup manusia menuju kepada kesempurnaannya. Ramadhan seharusnya membawa kepada tiga transformasi mendasar dalam hidup umat Muslim.

Transformasi pertama dalam hal mentalitas. Selama bulan Ramadhan, insan-insan Mukmin telah melakukan penataan batin, yang memberikan dampak positif pada suasana kejiwaan pelaku puasa.

Hal itu tidak terlepas dari realita bahwa puasa adalah ibadah yang sifatnya sangat personal antara seorang hamba dan Rabbnya. Tabiat ini dengan sendirinya akan membangun “al-Qurbah” (kedekatan) yang terbangun dalam suasan “al-ihsan” (seolah melihat Allah atau memiliki keyakinan dilihat oleh Allah).

Pada akhirnya ibadah ini akan melahirkan situasi mentalitas yang merasakan “ma’iyatullah” atau merasa dibersamai oleh Allah SWT. Keyakinan seperti ini lantas melahirkan mentalitas baja pada seorang Mukmin.

Dalam hidupnya, dia bukan akan mudah goyah atau goncang karena ragam perubahan yang terjadi. Umat tersebut memiliki pegangan yg solid yang takkan goyah, disebut “al-‘Urwatul Wutsqo”.

Transformasi berikutnya adalah dalam hal prinsip. Puasa Ramadhan mengubah karakter atau prilaku kemanusiaan umat Muslim ke arah yang lebih baik. Prinsip yang baik inilah yang dikenal dalam agama dengan aklaqul karimah (prilaku yang mulia).

“Jika saja semua aspek agama diperas, maka yang jadi keluar sebagai intisari adalah akhlak karimah itu. Itulah yang mau disampaikan dalam pesan kenabian. //”Innama buitstu liutammima makaarimal akhlaaq” / Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, ” ucap Imam Shamsi Ali.

Karenanya, semua ibadah dalam Islam, mulai dari shalat, Zakat, puasa dan Haji, semuanya memiliki pesan-pesan moral (moral messages) untuk membangun karakter mulia manusia.

Bulan Ramadgan juga jadi pengingat, barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan buruk, jadi tiada hajat bagi Allah tuk dia tinggalkan makan dan minumnya. Akhlak manusia mendapatkan perhatian tidak kecil Islam.

Terakhir, transformasi yang hakekatnya terjadi dalam sendiri umat Muslim usai Ramadhan ialah perilaku sosial. Bulan Ramadhan harusnya mampu membawa perubahan mendasar dalam prilaku sosial yang biasa disebut budaya atau kultur.

“Ibadah puasa selama Ramadhan tidak saja melahirkan manusia yg baik secara pribadi-pribadi. Tapi seharusnya melahirkan bentuk budaya positif dalam mansyarakat, ” kata Presiden Nusantara Foundation ini.

Perilaku sosial atau budaya ke masyarakatan sesungguhnya menjadi salah satu pilar keislaman kita secara komunal (masyarakat/jamaah). Perilaku baik secara jamaah / komunal kita itulah sesungguhnya dikenal dengan konsep “al-ma’ruf” dalam agama ini.

Nilai kebaikan dalam Islam imemiliki tingkatan atau bagian. Kebaikan pada tataran fisik dan material disebut “thoyyib”. Misalnya, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk makanan tidak saja halal tapi juga “thoyyib”, berarti makanan itu harus secara fisik sehat, baik dan manfaat.

Jika nilai kebaikan itu mencakup fisik dan batin (ruh/spiritualitas) maka itu disebut “Khaer”. Namun Khaer ini masih sebatas tingkatan pribadi. Seseorang yang melakukan kebaikan dan baik pada dirinya disebut “khaer”.

Jika kebaikan fisik maupun batin itu tertransformasi ke dalam prilaku kolektif masyarakat (social behaviors) maka itulah yang disebut “al-ma’ruf”.  

Berita Lainnya