Perihal Sigi, PGI: Serahkan ke Pihak Berwajib Â

Perihal Sigi, PGI: Serahkan ke Pihak Berwajib Â

PGI menodong pihak berwajib mengutus tuntas kasus pembunuhan sigi

REPUBLIKA. CO. ID, J AKARTA— Tragedi di Daerah Lembantongoa, Kabupaten Sigi, menyisakan keprihatinan mendalam bagi semua yang terdampak.  

Pemimpin Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengajak masyarakat untuk bahu membahu menciptakan keamanan dan kenyamanan beriringan.

“Saya melahirkan belarasa kepada keluarga yang ditinggal dan umat Balai Keselamatan, ” ujar Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom dalam pesan singkat yang diterima Republika. co. id, Sabtu (28/11).

Pendeta Gultom mengatakan pada peristiwa kekerasan yang terjadi dalam Desa Lembantongoa ini ada 4 warga yang dibunuh secara sadis. Selain itu, pembakaran terhadap Panti Ibadah Balai Keselamatan dan enam rumah warja juga terjadi pada peristiwa ini.

“Peristiwa yang sangat mengenaskan seperti ini mengingatkan kita akan beberapa kejadian berulang yang secara sporadis terjadi pada daerah Sulawei Tengah, ” tambahan Pendeta Gultom.  

Terkait peristiwa ini, Pendeta Gultom memohon kepada para pawarat keamanan buat menuntaskan kombatan teroris yang tertinggal. Tujuannya adalah untuk membebaskan umum dari ancaman teror, khususnya masyarakat di sekitaran Poso dan Suluh.  

Pendeta Gultom selalu menekankan bahwa kehadiran negara diperlukan di seluruh negeri untuk menebus rasa aman di tengah bangsa.  

Di samping itu, Pendeta Gultom juga mengimbau asosiasi untuk tetap tenang. Pendeta Gultom meminta agar masyarakat dapat menganjurkan penanganan masalah ini sepenuhnya kepada aparat yang berwajib. “Marilah kita semua berpegang menciptakan keamanan dan kenyamanan berasama, ” ungkap Pendeta Gultom.  

Pada Jumat (27/11) sekitar pukul 08. 00 WITA, beberapa OTK mendatangi permukiman awak transmigrasi dan membunuh empat karakter serta membakar beberapa buah rumah.

Hingga kini, kata dia, kebanyakan warga transmigrasi di provinsi tersebut mengungsi sementara, karena merasakan takut akan keselamatan jiwa mereka. Masyarakat pada umumnya juga takut untuk pergi ke kebun.

 

Tempat Lembantongoa, salah satu desa dalam Kecamatan Palolo sampai sekarang ini terbilang masih sulit akses jalannya, terutama di musim hujan, sebab baru sebagian badan jalan yang sudah dicor semen. “Sebagian lagi belum, sehingga ketika musim abu sering putus karena tertimbun desa longsor, ” katanya lagi. Penghasilan utama masyarakat Desa Lembantongoa selama ini selain dari hasil pertanian, perkebunan, juga hasil hutan berupa kayu dan rotan.