Pemimpin Besar Masjid Istiqlal: Idul Adha Momen Introspeksi Diri

Pemimpin Besar Masjid Istiqlal: Idul Adha Momen Introspeksi Diri

Introspeksi diri diperlukan mengingat suasana saat ini yang kerap didatangi musibah.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, menitipkan empat perintah terkait Idul Adha tahun itu. Salah satunya, menjadikan momen itu sebagai waktu untuk introspeksi & retrospeksi diri.

“Kepada segenap kaum Indonesia khususnya umat Muslim, yuk menjadikan Idul Adha, hari umum kurban ini, sebagai sebuah momen untuk introspeksi dan retrospeksi ataupun mengevalusi diri, ” ujar Kiai Nasaruddin Umar saat dihubungi Republika. co. id , Jumat (31/7).

Introspeksi dan retrospeksi dibutuhkan mengingat kondisi saat ini dengan kerap didatangi musibah. Di antaranya, pandemi Covid-19, longsor, banjir, maupun gempa bumi yang menelan banyak korban.

Rektor Madrasah Tinggi Ilmu Alquran PTIQ Jakarta ini juga menyebut, musibah dengan datang biasanya merupakan proses menelaah yang dikirim oleh Allah SWT. Musibah tidak sama dengan azab.

Selanjutnua, Prof Nasaruddin menyebut Azab tidak didatangkan kepada umat yang beriman. Azab cuma menimpa orang-orang yang kafir.

“Musibah datang untuk menyerahkan peringatan kepada manusia, khususnya kita umat Islam. Mungkin, ada dengan salah selama perjalanan hidup kita, ” lanjutnya.

Kalau umat Muslim percaya dengan hadis shahih, menurut Nabi Muhammad SAW, ada tiga permintaan yang diutarakan Nabi namun hanya dua yang dikabulkan. Dua permintaan itu merupakan jangan menimpakan adzab kepada umat Nabi sebagaimana umat-umat sebelumnya & janganlah Allah SWT memutus lengah rantai umat Muslim sehingga tak sampai pada akhir zaman.

Covid-19 bukanlah azab bagaikan yang digaungkan oleh banyak pihak, yang berlatarkan politik. Pandemi ini datang dari Allah SWT, yang notabene berada dalam posisi netral, tidak berkaitan dengan hal barang apa pun.

Ketiga, menggunakan Idul Adha, ia mengajak umat Muslim untuk berbagi dengan sesama yang tidak mampu. Tradisi idul qurban merupakan bentuk kasih sayang dari Allah SWT.

Allah SWT mengubah pengorbanan di bentuk manusia menjadi hewan. Periode dulu, banyak dikorbankan manusia buat kepentingan tertentu. Pengorbanan manusia tidak hanya berbentuk fisik tapi mampu juga pembunuhan karakter.

“Nafsu membunuh, jangan kepada pribadi, tapi tumpahkan kepada hewan. Tersebut juga harus dengan cara islami, membaca basmalah terlebih dahulu supaya tidak menjadi bangkai, ” sebutan dia.

Terakhir, buat umat Islam Indonesia, ia menodong mematuhi protokol kesehatan. Apa dengan disampaikan oleh pemerintah dan diteruskan oleh Ulama atau Kiai, sesungguhnya sekaligus perintah agama.

Dalam QS An-Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendirian tentang sesuatu, maka kembalikanlah dia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang begitu itu lebih utama dan lebih baik akibatnya”.

Buya Nasaruddin mengingatkan, menolak bahaya bertambah utama dari mwngejar manfaat. Tanpa sampai memburu pahala individual, namun mengorbankan diri dan keluarga dengan menyebarkan Covid-19.