MENODAI Bisa Jadi Produsen Udang Penanaman Terbesar di Dunia

MENODAI Bisa Jadi Produsen Udang Penanaman Terbesar di Dunia

Permintaan dan harga udang di dalam maupun luar negeri mau makin meningkat.

REPUBLIKA. CO. ID, BOGOR – Guru Tinggi Fakultas Perikanan dan Ilmu Bahari IPB University Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengatakan bisnis udang makin menjanjikan. “Dalam tiga  dekade terakhir, permintaan dan harga udang baik di pasar global (ekspor) maupun dalam negeri (domestik) relatif stabil dan diperkirakan hendak terus meningkat di masa ajaran, ” kata Prof Rokhmin Dahuri pada acara Konsolidasi dan Akselerasi Pengembangan Produksi Industri Udang 2021-2025 Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi di Bogor, Senin (21/12).

Ia menambahkan, dengan sekitar 99. 000 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada), Indonesia memiliki daya lahan tambak dan produksi tolol budidaya terluas (3 juta ha) dan terbesar di dunia.   Namun,   kata dia, mematok 2018 produksi udang budidaya Nusantara hanya 907. 998 ton (versi KKP) atau 450. 000 ton (versi SCI dan GPMT).  

Padahal, China dengan 14. 500 garis pantai dan Vietnam secara 3. 444 km garis miring masing-masing memproduksi sekitar 2 juta ton dan 775. 000 ton. “Artinya, peluang Indonesia menjadi pembuat udang budidaya terbesar di negeri sangatlah besar, ” ujarnya.

Prof Rokhmin menyebutkan, penguasaan teknis bangsa Indonesia tentang budidaya udang termasuk salah satu yang terbaik di dunia, terbukti Nusantara sebagai salah satu top five (5) produsen udang dunia. Semenjak 2016, Indonesia menjadi produsen penanaman udang terbesar ke-2 di dunia.  

“Peluang pengembangan lahan untuk kegiatan budidaya tembok udang di Indonesia masih betul leluasa, ” kata Prof Rokhmin yang juga ketua umum Umum Akuakultur Indonesia (MAI).

Ia memaparkan, sejak 1990-an, komoditas dan produk olahan tolol, terutama dari perikanan budidaya (aquaculture), merupakan penyumbang terbesar (35 upah = 1, 7 miliar dolar AS) terhadap total nilai ekspor perikanan Indonesia (4, 94 miliar dolar AS). “Periode 2015-2019, sebagian besar ekspor udang Indonesia ditujukan ke Amerika Serikat, disusul Jepang dan Tiongkok, ” tuturnya di dalam rilis yang diterima Republika. co. id.

Menurut Rokhmin, penanaman udang menjadi solusi atas bermacam-macam permasalahan.   “Usaha budidaya udang sangat menguntungkan (highly profitable), dengan keuntungan bersih (net profit) sekitar Rp 20 juta – Rp 45 juta (rata-rata Rp 22 juta)/ha/bulan). Ini merupakan solusi atasi kemiskinan, ” ujarnya.  

Budidaya udang menyerap banyak tenaga kerja, yakni  1 – 4 orang/ha (on-farm) dan 4 orang/ha (off-farm: industri serta  jasa hulu dan hilir).   “Ini jadi olusi atasi pengangguran, ” kata Rokhmin yang juga ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara).

Budidaya udang menciptakan nilai tambah dan multiplier effects sangat besar. “Ini solusi pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19, ” paparnya.

Sebagian besar lokasi kegiatan di wilayah pesisir, pedesaan, dan luar Jawa. “Ini solusi masalah disparitas pembangunan antarwilayah, ” tegasnya.

Menurut nya, secara aplikasi inovasi IPTEKS dan tadbir secara tepat dan benar, pembangunan dan bisnis budidaya udang bakal sustainable. “Ini membantu transformasi wujud ekonomi nasional, ” kata Rokhmin yang juga  koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – 2024.

Namun, ia mengemukakan, industri budidaya tolol nasional masih menghadapi sejumlah permasalahan dan tantangan. “Baik yang sifatnya subsitem pra-produksi, subsistem produksi on-farm, subsitem processing and marketing (hilir), maupun kebijakan politik ekonomi (faktor eksternal), ” ujarnya.

Salah satu contohnya, pada umumnya Pemerintah (Pemda) belum menganggap cara tambak udang sebagai sektor primadona (leading sector, prime mover).   Sehingga, dalam RTRW  (rencana metode ruang wilayah) sering tergeser sebab sektor lain (seperti industri manufaktur, pariwisata, pemukiman, business center, dan ESDM).

Selain itu, sebagian besar (80 persen) usaha tambak udang bersifat tradisional dan skala kecil,   tak memenuhi skala ekonomi, dan tidak menerapkan Best Aquaculture Practices. “Di samping itu, kemungkinan penurunan kualitas udang: dari panen, keluar sejak lokasi tambak, dibawa oleh supplier (pedagang perantara/pengepul) hingga sampai di  pabrik (industri) pengolahan udang, ” paparnya.

Rokhmin cerai-berai menguraikan berbagai langkah yang perlu ditempuh untuk mewujudkan Indonesia jadi produsen dan pengekspor udang terbesar di dunia. Salah satu dalam antaranya  program revitalisasi tambak udang. Termasuk ke dalamnya program ekstensifikasi tambak udang model klaster di  daerah (kawasan) relatif terpencil (remote areas), program ekstensifikasi tambak udang model mandiri, program ekstensifikasi tanggul udang klaster kolam bulat berbasis masyarakat, serta model klaster budidaya udang rakyat untuk generasi milenial.

Hal lain dengan juga sangat penting, menurut Rokhmin adalah kebijakan politik ekonomi dengan kondusif. “Tambak udang harus menghunjam sebagai sektor unggulan (strategis) nasional dalam RTRW dan RZWP3K. Kemudian permudah, percepat, dan permurah perizinan usaha. Juga, program kredit khusus dengan bunga 7 persen  serta persyaratan relatif lunak.   Tak kalah pentingnya adalah penciptaan kondisi investasi dan kemudahan berbisnis yang kondusif, ” ujarnya.

Di akhir uraiannya, Rokhmin menjelaskan tentang Indonesia Aquaculture Incorporated sebagai jalan menuju Indonesia jadi produsen dan pengekspor udang terbesar di dunia. “Indonesia Aquaculture Incorporated adalah etiap komponen dalam pola usaha budidaya udang (seperti pengusaha hatchery, pakan, petambak, suppliers,   processor, traders, pemerintah, asosiasi, peneliti dan dosen) harus mengeluarkan (menyumbangkan) kemampuan terbaiknya, sehingga menghasilkan output akuakultur yang berdaya saing luhur (QCD) secara berkelanjutan. Selain tersebut, antar komponen sistem usaha penanaman udang harus solid, care and share, strengthening to each other, dan bekerja  sama secara sinergis, ” ujarnya.