mantan-napiter-jangan-kucilkan-orang-terpapar-radikalisme-1

Mantan Napiter: Jangan Kucilkan Orang Terpapar Radikalisme

Mantan napiter menilai orang terpapar radikalisme justru harus dirangkul

REPUBLIKA. CO. ID, TARAKAN— Mantan narapidana teroris (napiter) Cendekia Budi Setyawan meminta klub tidak memberikan sanksi baik dengan mengucilkan orang yang terpapar dengan paham radikalisme.

“Ini tindakan alpa, mereka yang terjerumus harusnya dirangkul dan dibina sebab kalau dijauhi mereka justru bisa kian jauh tersesat, ” kata mantan pemrakarsa radikalisme-terorisme 2002-2014 di Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (26/4).

Hal itu diungkapkan saat menjadi rujukan dalam dialog interaktif digelar BEM (Badan Ekskutif Mahasiswa) Nusantara Kalimantan Utara secara tema “Upaya Memahami serta Menangkal Radikalisme, Terorisme & Intoleransi di Kaltara”.

Perumpamaan tanaman, kata mantan napiter yang bebas 23 Oktober 2017, mereka yang terpapar akan layu jika dikurung. “Justru lebih berbahaya era mereka disisihkan dalam pergaulan sosial, ” ujar Pandai yang kini aktif siap peneliti dan praktisi radikalisme-terorisme di Kreasi Prestasi Perdamaian 2019.

Dengan perkembangan media sosial saat ini, akhirnya mereka mencari kelompok yang sepaham dengannya. Kontra narasi saat ini benar penting karena berdasarkan pengalamannya saat “tersesat”, berawal daripada sering membaca tentang tertindasnya umat Islam oleh Amerika.

“Pencegahan radikalisme dan terorisme adalah kepalang jawab bersama untuk memerosokkan lebih masif kontra riwayat di media massa serta media sosial, ” sebutan penulis buku “Internetistan Jihad Zaman Now” dan roman “Angin dan Bidadari” itu.

Sebelumnya, narasumber lain dari Ketua Konvensi Koordinasi Pencegahan Terorisme Kaltara Datu Iskandar Zulkarnaen membeberkan tentang potensi radikalisme dalam provinsi termuda itu. Lengah satunya, literasi digital belum mampu menangkal radikalisme serta menumbuhkan nilai kebhinekaan di masyarakat.

Laksana juga daerah lain dalam Indonesia, indeks potensi radikalisme lebih tinggi pada mereka yang punya akses internet, khususnya masyarakat urban & milenial. Secara nasional, dia menyebut, dari 47 ribu media siber di Nusantara baru 2. 700 terverifikasi Dewan Pers.  

Artinya masih tersedia puluhan ribu media online rawan disusupi berita dengan bisa menyesatkan. “Begitu pula kita melihat di media sosial maka lebih banyak konten yang bisa menjerumuskan ketimbang mencerahkan sehingga tersebut tanggung jawab kita semua, ” kata Datu Iskandar.

Menjawab perkara mahasiswa tentang cara mungkin memahami tentang radikalisme, lengah satunya jika ada kelakuan menyangkal empat pilar kewarganegaraan nasional Pancasila, UUD 1945, Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika. “Jadi membentengi diri sejak radikalisme juga harus melakoni tentang empat pilar kewarganegaraan nasional ini, ” katanya, sembari menambahkan perlunya  mata kuliah khusus tentang pencegahan radikalisme, terorisme dan intoleransi, memikirkan peran pemuda begitu penting sebagai agen perubahan.      

 

sumber: Antara