Kongsi Farmasi Diminta tak Ambil Jalan Saat Pandemi

Kongsi Farmasi Diminta tak Ambil Jalan Saat Pandemi

Keinginan alat kesehatan oleh perusahaan farmasi sekarang mendesak.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menodong perusahaan farmasi tidak mengambil jalan dalam kesempitan dalam pengadaan juru bicara kesehatan.

“Jangan sampai nanti keputusannya menimbulkan persoalan baru, ” perkataan Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus ketika dihubungi di Jakarta, Senin (11/5).

Saat ini, kebutuhan alat kesehatan, termasuk jalan tes cepat ( rapid test C ovid -19 cukup dibutuhkan guna memutus penyaluran virus corona.   “Kebutuhan juru bicara kesehatan memang sekarang mendesak serta menjadi suatu peluang bisnis bagi pelaku usaha yang bergerak pada bidang farmasi sehingga dimungkinkan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan tumbuh dalam waktu singkat, ” katanya.

Ia mengharapkan kongsi farmasi di dalam negeri tetap menjaga kredibilitasnya dan tidak melakukan praktik mafia sehingga pemerintah efektif melawan  C ovid -19 di negeri.   “Harus ada transparansi mengenai harga barang hingga biaya logistik, dengan begitu ketika dijual di dalam negeri mencapai kehormatan keekonomiannya sehingga tidak saling rambang dan membebankan masyarakat, ” ucapnya.

Apalagi, importir memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk dan pajak impor. Heri meminta pemerintah memperbaiki tata kelola impor kendaraan kesehatan guna mencegah terjadinya penyalahgunaan.

“Tugas pemerintah membenarkan aturan-aturan agar harmonis untuk memasukkan, ” katanya.

Heri mengakui kinerja BUMN farmasi cukup baik dalam menangani  C ovid -19 di dalam negeri. Namun, tentu banyak faktor yang dapat membuat kinerjanya menjadi terpengaruh.

Sebelumnya, induk holding farmasi awak usaha milik negara (BUMN), PT Bio Farma menilai munculnya isu mafia alat kesehatan dan obat-obatan di tengah pandemi  C ovid -19 seiring meningkatnya permintaan dibandingkan sediaan.

“Mafia alkes, permasalahan pandemi ini demand jauh lebih mulia daripada suplainya. Dalam kondisi seperti ini pasti ada kesempatan semacam itu, ” ujar Direktur Sari Bio Farma Honesti Basyir.

Di sisi lain, impor alat kesehatan juga tidak berjalan lancar karena setiap negara membentengi pasokannya untuk penanganan  C ovid -19.   “Permasalahan yang muncul kelanjutan isu mafia farmasi ini karena mereka deal-nya melalui broker terbatas. Kalau kami langsung ke pabriknya, jadi tak melalui broker , ” katanya.

Ia memastikan, BUMN farmasi tidak akan melakukan praktik nista, hal itu karena BUMN mempunyai fungsi agen pembangunan.

sumber: Antara