larangan-bidah-dalam-islam-1

Kekangan Bidah dalam Islam

IHRAM. CO. ID, JAKARTA — Semua Ibadah pada dasarnya ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya sehingga harus dikerjakan secara sebaik-baiknya.

“Ibadah telah disyariatkan namun dikerjakan tak sesuai tuntunan itu termasuk bid’ah yang sangat terlarang dalam agama, ” tulis H. Shalahuddin Guntung di dalam tulisannya Haji dan Ittiba.

Ia menerangkan, bid’ah adalah segala yang diada-adakan dalam agama tanpa berdasar pada suatu dalil. Suatu perkara tak dapat dikategorikan sebagai bid’ah kecuali jika di dalamnya terdapat tiga unsur secara kolektif.  

“Yaitu, mengadakan sesuatu yang baru, menyandarkan sesuatu dengan baru tersebut kepada agama, dan hal baru dengan diadakan tersebut tidak mempunyai dalil syariat, baik yang bersifat khusus ataupun dengan bersifat umum, ” katanya.

Bid’ah di bidang ibadah dan bidang-bidang agama lainnya sangat kasar ditolak dan dilarang oleh Rasulullah SAW dalam penuh sabdanya, antara lain:

“Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena sesungguhnya perkara yang diada-adakan itu adalah bid›ah dan semua bid’ah itu sesat. ” (HR. Abu Daud).

Serta Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengada-adakan sesuatu di urusan (agama) kami itu yang bukan bagian daripadanya maka hal itu tertolak. ” (HR. Bukhari serta Muslim).

Di redaksi yang lain disebutkan, “Barang siapa mengerjakan sepadan amalan yang tidak tersedia perintahnya dari kami, niscaya amalan tersebut tertolak. ” (HR. Muslim).

Ibadah yang bid’ah, selain berisiko ditolak oleh Tuhan dan divonis sesat oleh Rasulullah Saw, di dalamnya juga terdapat pendustaan kepada Allah yang menegaskan kalau agama ini telah lengkap, sehingga tidak perlu perubahan dan ditambah dengan ibadah baru atau cara pertama dalam melakukan ibadah.

Sedang Allah telah menegaskan dalam  Al – quran surah Al-Maidah ayat 3 yang artinya, “Pada keadaan ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan sudah Kuridhai Islam itu oleh karena itu agama bagimu. ” (Al-Maidah ayat 3).