inilah-rute-hijrah-nabi-muhammad-saw-dahulu-1

Inilah Rute Hijrah Nabi Muhammad SAW Dahulu

Nabi Muhammad membuktikan kelasnya sebagai ahli muslihat saat merencanakan hijrah

REPUBLIKA. CO. ID, —  Ketika bervariasi cobaan dan ujian silih berganti dialami umat Agama islam, Rasulullah SAW memerintahkan trah Muslimin untuk segera berhijrah ke Yatsrib. Perihal wadah untuk hijrah ini, Allah SWT telah memberitahukan Rasulullah.

Di dalam buku berjudul Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Mulia , Martin Lings mengungkapkan, Nabi SAW telah mengetahui bahwa Yastrib adalah lahan subur di antara dua jalur batu-batu hitam yang beliau lihat pada mimpinya. Beliau juga tahu bahwa tibalah waktunya buat hijrah.

Tengah itu, Dr Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya melanggar Hijrah dalam Pandangan Al-Quran menuliskan, Imam Muslim mengutarakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Aku melihat dalam rebah bahwa aku berhijrah sejak Makkah menuju suatu wadah yang banyak terdapat pokok kayu kurma. Aku mencoba menebak apakah itu Yamamah atau Hajar? Namun, ternyata, itulah Kota Yatsrib. ” (Shahih Muslim: 2272).

Rasul pun memerintahkan para-para sahabatnya untuk segera berhijrah, baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Adapun Rasul SAW, rencananya akan menyusul setelah semua umat Islam berhijrah ke Madinah. Sebab, Rasul mengetahui, yang dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy ialah diri beliau, dan bukan kaum Muslimin.

Kaum Quraisy pun merancang strategi untuk melakukan penangkapan terhadap Rasul SAW. Tetapi, rencana kaum Quraisy ini diketahui oleh Nabi SAW. Saat itu, Rasulullah tunggal memang masih tinggal di Makkah dan kaum Muslim sudah tidak ada teristimewa yang tinggal, kecuali beberapa kecil. Sambil menunggu perintah Allah SWT untuk berhijrah, Nabi SAW menemui Lebu Bakar dan memberitahukannya untuk bersiap hijrah ke Madinah.

“Dan, katakanlah, Ya Tuhanku, masukkanlah ego secara masuk yang betul dan keluarkanlah (pula) hamba secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku sejak sisi Engkau kekuasaan dengan menolong. ”(Al-Isra [17]: 80).

Pada sinilah, sebagaimana dipaparkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Hayatu Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) , dimulainya sejarah yang paling cemerlang dan indah yang pernah lumrah manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya menetapkan kebenaran, keyakinan, dan keimanan.

Untuk mengelabui kaum Quraisy, Rasulullah memutuskan akan menempuh jalan asing (rute yang berbeda) daripada jalur yang biasa dimanfaatkan penduduk Makkah untuk menuju Madinah. Rasulullah SAW membatalkan akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.

Padahal, Abu Bakar sudah menyiapkan dua ekor unta sebagai kendaraan dengan akan dipergunakan Nabi SAW bilamana berhijrah. Hijrah itu dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan dakwah dan akidah Islam serta kaum Muslimin.

Rute yang ditempuh Rasul itu adalah setelah keluar dari rumah dia, jalan yang ditempuh merupakan Gua Tsur, berjarak sekitar 6-7 kilometer di selatan Makkah. Sedangkan Madinah berkecukupan di sebelah utara Makkah. Langkah ini diambil buat mengelabui kafir Quraisy. Pada Gua Tsur ini, Nabi dan Abu Bakar letak selama agak tiga hari.

Selanjutnya, dia mengambil jalur ke pedoman barat menuju Hudaibiyah, pedoman sebelah timur desa Sarat. Kemudian, menuju arah Madinah dan berhenti di sebuah kawasan di al-Jumum dekat wilayah Usfan. Lalu, bekerja ke arah barat dan memutar ke perkampungan Ummul Ma’bad dan berhenti pada wilayah Al-Juhfah.

Selanjutnya, beliau menuju Thanniyat al-Murrah, Mulijah Laqaf, Muwijaj Hujaj, Bath Dzi Katsir, hingga tiba di Dzu Salam. Disini, beliau menyesatkan ke arah barat sebelum meneruskan ke arah Kota madinah dan berhenti di daerah Quba. Di sinilah beliau mendirikan Masjid Quba, yaitu Masjid pertama yang dibangun Rasul SAW.

Setelah dari Quba, atau sekitar satu kilometer sebab Quba, beliau bersama pengikut Islam lainnya, melaksanakan shalat Jumat. Untuk memperingati peristiwa itu, dibangunlah masjid di lokasi ini dengan nama Masjid Jumat. Setelah tersebut, barulah Rasul SAW menuju Madinah.