hello-sadnessratapan-bollywood-hingga-bonjour-tristesse-1

Hello Sadness: Ratapan Bollywood Tenggat Bonjour Tristesse?

Paradigma dan ukuran baru politik dalam serta luar negeri

IHRAM. CO. ID, Oleh: Ridwan Saidi, Sejarawan dan Budayawan Betawi.

Dalam bulan Mei 2021 terjadi konflik senjata Hamas vs Israel. Orang menduga sebagai  conflict as usua l. Sebentar teristimewa juga stop sendiri. Orang hafal memang sejak 1967 selalu demikian.

Ternyata konflik Mei 2021 beda dengan serangkaian pertentangan pasca 1967. Time frame konflik Mei 2021 semasa 11 hari, negara barat tak ada yang campur, bahkan komentar pun tak. Lebih tak terduga pertentangan berujung rundingan dan Israel menurut saja.

Belum hilang rasa keterkejut itu, mendadak Taliban berpentas di Afganistan. Begitu USA mnyatakan tinggalkan Afgan,   timeframe Kabul jatuh bagai terukur.

Kami hormat pada yqng    berpendapat USA keok, tapi kalau membiasakan dari kasus perang Vietnam, maka kesimpulan bisa asing karena format yang dipake untuk Taliban mirip dengan yang dipakai di Vietnam di mana US Army pergi dari Vietnam dan beberp tahun kemudian kembali. AS tidak phisik tapi kembali dengan pengaruhnya dengan datang di Vietnam.

Melihat Taliban Agustus 2021, saya simpulkan ini format baru, kotet langgeng sama. Namun saya hargai pendapat lain.

Gaza membangun sekarang secara bantuan Mesir. Mesjid baik Palestina pun sudah diresmikan. Maka sudah ada terbentuknya negara Palestina, Israel tak boleh ganggu, apalagi jika Negara Palestina berdiri.

Sementara itu Taliban akui tak kurang daripada enam kali mereka bertemu Trump. Tampaknya politik sungguh negeri USA tak bertukar, tapi dengan paradigma perdana. Begitu pun di Asia Tenggara. Penyelesaian soal Myanmar dengan cara militer didiamkan saja oleh USA.   Dan penyelesaian krisis tadbir Malaysia juga tak dikomentari USA.  

Bagaimana dengan Nusantara? Baru-baru ini Megawati menangisi Presiden Jokowi yg diejek medsos. Padahal netizen pada medsos berkelakuan begini telah lama, kok baru menangis sekarang. Tentu Mega punya alasan shahih untuk menangis. Karena dua-tiga hari sebelum tangisi Jokowi, Mega tegur  keras Jokowi agar stop pencitraan.

Meyakinkan, kalau di kurun dua event itu berlaku pertemuan Jokowi-Mega. Kalau pertemuan itu ada, tentu Jokowi menceritakan sesuatu kepada Kabut, ini sebab sejati banjir air mata pada kegiatan zoom Megawati. Sesuatu yg diceritakan Jokowi pada Kabut jelas bukan kisah film Bollywood yang meski sedih tapi berjoged dan menyanyi. Namun itu mirip lakon Prancis yang kelam & meratap-ratap: Bonjour   Tristesse, film 1958 Otto Preminger. Maka kesediham menjadi ucapan salam: Hello Sadness?

Berdekatan dengan kisah sejarah tangis Megawati (Mega), Prabowo imbau supaya kita tiru pimpinan kelompok komunis China. HUT PKC 1 Juli, apresiasi segar satu setengah bulan lalu. Apa mau bikin USA cemburu? Susahnya kalau tak dihirau. Emang gue pikirin?

Expresi unik kedua tokoh ini menggiring saya pd kesimpulan bhw telah tiba “Sandya Kurun Ning  Majapahit”. Di mana Majapahit buyar pada 1479 karena kehabisan ongkos.

“Do not cry Argentina, ” tersebut kata Evita Peron. Tapi di sini ‘Mau do not ape ye..? Donat kali ye? Ampuuuun..?

Tapi itulah negeri yang Khabi Kushi Kabhi Gham : Kadang Sedih Kadang Bahagia!