Corona Buat Anak Alami Tekanan Psikososial

Corona Buat Anak Alami Tekanan Psikososial

Pembelajaran daring pada rumah, tak mengurangi rentannya terjadi risiko kekerasan anak

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat pandemi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) menghasilkan anak-anak Indonesia mengalami tekanan psikososial. Di antaranya merasa bosan tinggal di rumah, hingga ikut khawatir dengan penghasilan keluarga.

Penasihat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kemenkes Fidiansjah mengutip data dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Wahana Visi Indonesia mengatakan, bahwa virus ini meningkatkan tekanan psikososial.

“Ini mengkhawatirkan, 47 komisi anak merasa bosan tinggal dalam rumah, 35 persen anak kacau ketinggalan pelajaran karena ia tak biasa mengikuti pelajaran di rumah, kemudian 15 persen anak ngerasa tidak aman, 34 persen anak takut terkena penyakit termasuk Covid-19, kemudian 20 persen merindukan teman-teman, dan 10 persen anak khawatir tentang penghasilan orang tua serta kekurangan makan, ” ujarnya era mengisi konferensi pers virtual di akun youtube saluran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertema Posisi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Masa Pandemi, Senin (20/7).

Apalagi, kata dia, 11 persen bujang mengalami kekerasan fisik selama melakukan proses belajar yang tidak biasa di rumah dan 62 persen anak mengalami kekerasan verbal. Maka, dia menambahkan, potret itu mencitrakan betapa tingginya persoalan kesehatan sukma pada anak remaja kalau tak diantisipasi dengan cepat.

Pemerhati Kesehatan Sukma Anak UNICEF Ali Aulia Ramly mengutip satu studi yang dikerjakan oleh LSM lainnya yaitu peningkatan kekerasan pada anak. Dari satu. 200 responden, dia menyebutkan, 200 hingga 300 orang di antaranya mengaku mengalami kekerasan.

“Kemudian hampir 30 persen diantaranya (korban kekerasan) dialami anak, ” katanya.

Dia menambahkan, biar pendidikan pada anak

dijalankan melalui daring di rumah, tapi ini tak mengurangi rentannya terjadi risiko kebengisan.  

“Artinya persoalan bukan hanya ketika anak diam di rumah tetapi ada tekanan psikologis meningkatnya kebengisan di rumah dan ini kudu menjadi perhatian bersama, ” ujarnya.

Tempat menyontohkan konkrit kekerasan emosional adalah menjelek-jelekan si anak. Misalnya secara mengatakan bodoh, merendahkan si bani. Kekerasan lainnya juga bisa mengambil anak, dicubit kenapa tidak mampu mengerjakan tugas. “Ini perlu dipahami bersama-sama dan perlu dicegah, ” ujarnya.