bi-uang-rp-75-ribu-untuk-transaksi-bukan-cuma-souvenir-1

BI: Uang Rp 75 Ribu untuk Transaksi bukan Cuma Souvenir

Warga mengeluh tak mampu bayar belanjaan karena syak wasangka penjual menerima pecahan terakhir

REPUBLIKA. CO. ID,   JAMBI — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Suti Masniari Nasution menyatakan Uang Peringaan Kemerdekaan (UPK) 75 atau uang baru pecahan Rp 75. 000 merupakan kekayaan sah untuk digunakan transaksi dan bukan cuma sekedar souvenir.

“UPK 75 ini bisa untuk pembayaran, bukan cuma sekedar untuk souvenir. Ini alat pembayaran yang sah di NKRI, ” kata Suti Masriani di Jambi, Jumat (7/5) menyikapi keraguan sejumlah warga khususnya pelaku usaha dan kebaikan untuk menerima pembayaran uang baru itu.

Sejumlah warga Jambi, khususnya pelaku usaha perdagangan & jasa masih ragu menyambut uang baru kertas potongan Rp 75. 000 untuk alat transaksi. Ia menuturkan, Uang Peringatan Kemerdekan ke-75 tahun Republik Indonesia berbentuk kertas pecahan Rp 75. 000 merupakan alat pembalasan yang sah di seluruh wilayah NKRI sehingga klub bisa menggunakan uang itu untuk bertransaksi.

“Kalau ada penolakan lantaran masyarakat yang nggak sedia dibayar pakai uang potongan Rp 75. 000 seharusnya tidak boleh terjadi. Kan sudah ada undang-undangnya, ” kata Suti.

Menunjuk pasal 23 bagian 1 undang-undang No tujuh tahun 2011 tentang tanda uang diatur bahwa di setiap orang dilarang menolak buat menerima rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran. Dalam pasal 33 ayat dua yang menolak untuk menyambut rupiah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling periode satu tahun dan kejahatan denda paling banyak Rp 200 juta.

Pada momen Idul Fitri 2021, uang pecahan Rp 75. 000 bisa dijadikan THR idul fitri. Selain itu bisa dijadikan mahar pernikahan karena terlihat cantik dan khas.  

Keragu-raguan sejumlah masyarakat menerima pembayaran uang terakhir pecahan Rp 75. 000 terjadi karena belum tersentuh sosialisasi dan informasi terkait uang pecahan baru itu. Mereka memilih untuk meminta pembayaran dengan uang bagian lama seperti Rp 50. 000 atau Rp 100. 000 yang sudah akrab dalam transaksi mereka sehari-hari.

Keraguan penerimaan uang baru juga berlaku di sejumlah mini market di Kota Jambi. Petugas kasirharus membolak balik kekayaan pecahan baru itu pra melakukan pencatatan transaksi dalam mesin pembayaran.

“Maaf kami masih langka dengan uang itu, itu baru pertama kali saya terima, ” kata salah seorang petugas kasir kecil market di Kota Perdana Jambi.

Salah seorang ibu rumah tangga, Ny Lina bahkan sempat mengeluh tidak bisa menunaikan belanjaanya karena keraguan penjual menerima yang pecahan gres itu yang sebenarnya sudah menjadi alat tukar dengan sah.

sumber: Antara