Asas Cat Kuku dan Rambut Tiruan dalam Wudhu

Asas Cat Kuku dan Rambut Tiruan dalam Wudhu

Mengecat kuku dan menggunakan rambut palsu dalam agama Islam ada hukumnya.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Mengecat kuku dan memakai rambut palsu dalam agama Agama islam ada hukumnya, terutama saat berwudhu. Dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Wanita Muslim oleh Haya Binti Mubarok Al-Barik terdapat dua jenis cat tanduk.

Pertama, cat kuku yang zat pewarnanya tidak lengket, seperti daun inai atau daun pacar. Cat kuku jenis tersebut tidak membatalkan wudhu dan makbul sekalipun warnanya tetap membekas.

Kedua, cat kuku dengan zat pewarnanya berbobot, seperti cairan kimiawi yang banyak dijual dalam toko-toko dengan bermacam-macam merek. Pewarna kuku ini jika dipakai setelah wudhu sholatnya sah.

Namun, cat itu haruslah dihapus terlebih dahulu ketika hendak wudhu atau mandi. Hal ini supaya air dapat mengenai kulit serta kuku. Cat kuku jenis itu tidak dapat dikatakan sebagai perhiasan atau alat kecantikan.

Biasanya, wanita yang mengecat kukunya rajin pula memanjangkannya. Ini sahih bertentangan dengan fitrah manusia serta merusak kesehatan sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah SAW.

Namun rambut palsu haram hukumnya, tercatat menyambung rambut dengan rambut pula. Begitu juga dengan  memakai wig, konde palsu, cemara, dan lain-lain.

Rasulullah SAW berfirman, “Allah mengutuk wanita yang menyambung rambut dan dengan disambung rambutnya, ” (Hadits Shahih).

Untuk wanita yang menyambung rambut, mencantumkan wig, konde palsu, cemara, serta lainnya akan menghalangi masuknya air ketika berwudhu dan mandi. Tidak sah wudhu dan mandi melainkan dengan membasuh kepala. Sebab, para-para ulama sepakat membasuh kepala termasuk fardhu wudhu.