Agama Dunia: Sejarah Agama Sikh

Agama Dunia: Sejarah Agama Sikh

Agama Sikh tercipta serta berkembang berdasarkan pemikiran seseorang yang diterima.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA —  Agama Sikh tergolong di dalam agama al-Ard atau agama Dunia, yakni agama yang lahir ataupun tercipta dan berkembang berdasarkan adat, daerah, pemikiran seseorang yang lalu diterima secara global serta bukan berlandaskan wahyu.

Nanak dikenal sebagai orang pertama dengan membawa agama Sikh. Nanak dilahirkan di Talwandi Rai Bhoe, sebuah desa kecil di tepi kali Ravi, sekitar empat kilometer separuh barat daya Lahore, ibu praja wilayah Punjab. Ia lahir di 15 April 1469. Desa itu sekarang dikenal dengan nama Nankana Sahib, yang berati “desa wadah kelahiran Nanak”.

Bila dilihat dari kacamata Hindu, karakter tuanya memiliki kasta Ksatria. Ayahnya, Mehta Kalu, adalah seorang Patwari atau akuntan desa yang beroperasi pada perusahaan milik Rai Bular, seorang Muslim.

Sedangkan ibunya, Tripta, adalah penganut Hindu yang fanatik. Mereka merupakan turunan suku Khattri yang termasuk marga Arya. Oleh sebab itu, agama Sikh dikategorikan sebagai agama dengan lahir atau berasal dari keturunan Arya, sebagaimana halnya agama Hindu, Zain, dan Zoroaster.

Awalnya, Nanak sudah kelihatan sebagai orang yang nantinya akan lahir menjadi seorang perenung, senang bermeditasi, dan menjalani kehidupan mistik. Ayahnya berusaha menjauhkannya dari kegemarannya merenung tersebut dengan memberikan kesibukan beserta mencarikannya pekerjaan.

Sebab, ayahnya bercita-cita agar Nanak menjadi seorang pengusaha yang berhasil nantinya. Namun, semua usaha ayahnya bubar. Nanak bahkan bertambah lari ke dalam kehidupan meditatifnya.

Pernah terjadi, saudara perempuan Nanak berhasil membawa Nanak pulang ke rumahnya di Sultanpur dan berhasil membujuk Nanak agar mau beroperasi sebagai penjaga toko. Tak periode setelah Nanak bekerja sebagai pelayan toko, saudaranya membujuknya supaya bersetuju kawin.

Ia termakan, dan akhirnya dikawinkan dengan seorang gadis bernama Sulakhani. Sulakhani ialah keturunan keluarga terpandang dalam masyarakat. Kemudian dari hasil perkawinannya tersebut Nanak memperoleh dua orang anak.

Dengan perkawinan itu, Nanak menjadi lebih tenang dan sempat mengabdi kepada majikannya selama kurang lebih 12 tahun. Sampai suatu ketika, ia mengaku merasakan pengalaman mistiknya yang pertama kali yang dirasakannya sungguh-sungguh ajaib.

Pada waktu itu, patuh buku Janam Sakhis (buku riwayat hidup Nanak) tepat menjelang fajar bakal menyingsing, ketika Nanak sedang menggenangi diri di sebuah sungai, tiba-tiba ia lenyap ke dalam minuman dan selama tiga hari ia tak kunjung mucul. Ketika dia pulang ke rumah, ternyata ia sama sekali telah berubah.

Ia berulang kali berteriak dengan keras mengucapkan kata-kata “tidak tersedia Hindu, tidak ada Muslim. ” Yang dimaksudkannya dengan kalimat itu adalah, bahwa dua kelompok luhur umat beragama di anak negeri Indo-Pakistan itu, yaitu umat Hindu dan Umat Islam, sudah berakhir melaksanakan kebenaran agama masing-masing.

Mulai saat itu, Nanak menjalani hidup zuhud, penuh kemudahan. Ia lebih banyak merenung serta berkhalwat. Diceritakan ketika Nanak cukup berkhalwat di hutan, ia diangkat ke langit, dan di langit ia mendengar suara Tuhan dengan tertuju padanya. Bunyi suara itu artinya adalah:

Aku bersamamu

Aku membuatmu berbahagia, begitupun setiap orang yang memuliakan kamu

Pergilah dan selalu sebut nama-Ku

Bikin pada setiap orang agar berbuat seperti itu juga

Jangan kamu tergoda oleh kebendaan

Jadilah dermawan

Bersihkan dirimu

Hindari dosa dan perbanyak semedi

Aku adalah Tuhan

Aku adalah Brahma

Engkau adalah Guru yang beroleh pemberian Illahi

Pada melaksanakan tugas yang diembannya, Nanak sebagai guru tidak mendirikan madrasah, melainkan giat mengadakan perjalanan putaran. Menurut Janam Sakhis, Nanak sudah melakukan perjalanan dakwah keliling sebesar lima kali.

Penjelajahan pertamanya dimulai ke arah timur India sampai ke Asam. Pada perjalanan itu ia mengenakan baju Hindu dan Islam, yaitu jaket berwarna hijau dengan selendang putih di bahu serta memakai kopiah dan qalandar di kepala. Di keningnya dibubuhkan titik merah dan lehernya terkalung untaian tulang.

Sedangkan perjalanan terjauhnya ialah mengerjakan ibadah haji ke Makkah. Dari Makkah ia berziarah ke Madinah, dan selanjutnya berkunjung ke Baghdad, tempat ia hidup dan menghabiskan waktu bersama orang-orang sufi dan orang yang dianggap nirmala di sana.

Semasa mengerjakan ibadah haji ia menampakkan diri berlainan dengan seluruh pengikut Islam yang sedang mengerjakan ibadah haji. Ia memakai pakaian berupa biru sebagai ganti pakaian suci berwarna putih.

Dia juga memakai sebuah tongkat beserta tasbih di tangannya. Ia selalu menjinjing ember berisi air ke mana saja ia pergi buat persediaan air wudhu dan mandinya.

Setelah melakukan penjelajahan yang jauh itu, Nanak kembali ke negerinya bertepatan dengan penyerbuan bala tentara Barbar. Menurut Janam Sakhis, Nanak pernah ditangkap dan dipenjarakan oleh pasukan penakluk dalam Syedpur. Nanak menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Kartapur, tempat jamaah-jamaah besarnya selalu hadir mendengarkan dia berkhotbah.

Pada hari wafatnya, yang bertepatan dengan 23 September 1539, suatu perselisihan dan pertengkaran terjadi antara kaum Hindu & umat Islam. Masing-masing pihak menuntut pihaknyalah yang berhak merawat jenazahnya sesuai ajaran yang dianutnya.

Pertengkaran tersebut berakhir secara sendirinya karena sewaktu mereka membuka penutup jenazah Nanak, mereka cuma menemukan setumpuk kembang dan tidak menemukan jenazah Nanak. Oleh sebab itu, sampai saat ini tak ada yang mengetahui di mana tempat kuburan Nanak.

Nanak meninggal dunia pada piawai 70 tahun. Sebelumnya ia sudah menunjuk seorang muridnya sebagai penggantinya menjadi guru yakni guru Angarh (1539-1552). Ia menjadi guru sebab sudah ditunjuk langsung oleh guru nanak sebagai penggantinya sebelum nanak meninggal dunia.

Dia merupakan seorang pengikut nanak yang tekun, hidup sederhana sebagaimana nanak. Dengan kebijaksanaannya ia berhasil mencegah terjadinya perpecahan antara pengikutnya dengan mereka yang mengikut putra instruktur nanak, Sri Chand yang menuntut dialah yang berhak menggantikan bapaknya.

Selanjutnya, pemimpin keyakinan Sikh dipegang oleh

  1. Amar Das (1552-1574).
  2. Ram Das (1574-1581).
  3. Arjun (1581-1606).
  4. Har Gobind (1606-1645).
  5. Har Rai (1645-1661).
  6. Hari Krishen (1661-1664).
  7. Tegh Bahadur (1664-1675).
  8. Govind Singh (1675-1708).

Selain Guru Har Gobind yang sempat menjadi guru kurang lebih 39 tahun, maka Pengasuh Govind Singh yang lama menjadi guru selama 33 tahun. Selama itu ia berhasil menahan muncul dari dendam terhadap orang yang membunuh ayahnya yaitu ’Regh Hero.

Kepemimpinan guru yang menguasai kehidupan agama Sikh itu pun berakhir secara resmi secara berakhirnya jabatan guru yang kesepuluh pada 1708. Sejak itu yang menjadi guru kaum Sikh ialah kitab sucinya, terutama Adi Granth, karena di samping kitab itu terdapat pula kitab suci yang kedua, yaitu Dasam Granth.

sumber: Suara Muhammadiyah