107 Tukik Penyu Dilepasliarkan di Kawasan Kapoposang

107 Tukik Penyu Dilepasliarkan di Kawasan Kapoposang

Semua macam penyu laut di Indonesia telah dilindungi undang-undang

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional (BKKPN) Ketepeng melakukan monitoring pendaratan penyu di Rajin Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Kapoposang. Dalam pelaksanaannya, unit pelaksana teknis (UPT) dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL) tersebut melibatkan peran serta masyarakat sekitar tempat konservasi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Aryo Hanggono mengatakan dari hasil monitoring terlihat tiga induk penyu yang berisi atas dua induk penyu muda dan satu penyu sisik dengan mendarat dan bertelur. Kata Aryo, petugas mencatat ada dua lubang telur telah menetas pada Rabu (20/5) pukul 18. 30 WITA sebanyak 64 tukik penyu hijau, dan Kamis (21/5) pukul 16. 30 WITA sebanyak 43 menyelundup penyu sisik. Terhadap tukik yang telah menetas dilakukan pelepasliaran sebab tenaga lapangan dan kelompok umum binaan BKKPN Kupang.

“Semua jenis penyu laut dalam Indonesia telah dilindungi berdasarkan Sistem Pemerintah (PP) Nomor 7 tarikh 1999 tentang Pengawetan Jenis Pokok dan Satwa, ” ujar Aryo dalam keterangan tertulis yang diterima Republika di Jakarta, Rabu (27/5).

Selain itu, lanjut Aryo, Permen LHK No. 20 tarikh 2018 tentang jenis dan hewan yang dilindungi dan Permen LHK No. 106 tahun 2018 mengenai perubahan Permen LHK No. 20 tahun 2018 menyatakan enam jenis penyu tergolong satwa yang dilindungi undang-undang. Badan Konservasi Dunia IUCN yang juga memasukan penyu ke dalam kategori terancam punah.

Aryo menyampaikan KKP pada rangka melakukan penertiban terhadap penggunaan penyu dan turunannya juga melahirkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Pelestarian Penyu, Telur, Bagian Tubuh, & atau Produk Turunannya.

“Ancaman terhadap penyu adalah perniagaan baik dalam bentuk daging, telur ataupun bagian tubuhnya. Ini bermakna segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya itu dilarang, ” ungkap Aryo.

Aryo menilai sudah sepatutnya menjalankan keyakinan berlaku dan melakukan tindakan melindungi untuk mengurangi ancaman keberlangsungan tumbuh penyu, dan itu merupakan tanggung jawab kita sebagai pengelola medan konservasi.

Sementara tersebut, Kepala BKKPN Kupang Ikram M Sangadji menjelaskan kegiatan monitoring kepada biota dilindungi khususnya penyu adalah agenda wajib yang dilakukan sebab BKKPN dengan melakukan pencatatan masa, koordinat, jenis, jumlah individu, serta foto id jika dimungkinkan beserta tagging.

“Kami sudah menyusun SOP sebagai standar pengoperasian monitoring di lapangan, sehingga pengoperasian monitoring telah berstandar dan data bisa diperoleh secara optimal, ” perkataan Ikram.

Ikram memasukkan BKKPN juga memiliki tenaga lapangan yang waspada selama 24 jam di Pulau Kapoposang, serta dibantu oleh masyarakat yang sadar mau pentingnya konservasi yang tergabung pada kelompok binaan kami, sehingga dapat melakukan pengelolaan kawasan konservasi dengan optimal, khususnya dalam pemantauan biota dilindungi.

TWP Kapoposang sering disebut sebagai rumah susunan penyu, merupakan salah satu wilayah konservasi perairan yang menjadi habitat alami bagi penyu. Keberadaan kura-kura dapat dijumpai hampir di setiap sudut pulau.

Pengultusan juga menyampaikan TWP Kapoposang adalah kawasan yang potensial untuk dikembangkan menjadi desa wisata bahari, Buah hati Bahari. “Kapoposang memiliki 13 titik penyelaman, salah satunya bernama turtle point , bertemu dengan namanya spot tersebut lumrah merupakan habitat asli dari kura-kura sisik, kita bisa mengembangkan daya ini, bahkan dari kegiatan monitoring beriringan masyarakat terhadap pendaratan penyu berbuah kita dapat membuat bisnis cara wisata konservasi untuk menyaksikan kura-kura bertelur, ” kata Ikram menambahkan.