10 SMP Swasta Surabaya Simulasi Belajar Tatap Muka

10 SMP Swasta Surabaya Simulasi Belajar Tatap Muka

Simulasi untuk menyiapkan sekolah memenuhi protokol kesehatan.

REPUBLIKA. CO. ID, SURABAYA — Dinas Pendidikan Kota Surabaya menggelar simulasi pembelajaran tatap muka di sejumlah SMP swasta pada daerah itu, Selasa (4/8). Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Sudarminto, di Surabaya, Selasa, mengatakan ada 10 SMP swasta dari 21 SMP dengan menjadi proyek percontohan pembelajaran tatap muka untuk mewakili wilayahnya.

“Setelah simulasi ada kerap dengan pemerintah kota, dan sedang butuh kajian bersama ahli dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Hal itu untuk memutuskan rekomendasi juga masih menunggu Surabaya zona hijau, ” ujarnya di sela simulasi pembelajaran tatap muka di SMP 17 Agustus 1945 Surabaya.

Kajian itu sebati dengan rekomendasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar pembelajaran tatap membuang dilakukan saat Surabaya sudah daerah hijau (risiko rendah) penularan Covid-19.
Ia menegaskan simulasi itu tidak mendekati dimulainya pembelajaran tatap muka, tetapi menyiapkan sekolah buat memenuhi protokol kesehatan maupun perkakas dan prasarananya.

Menggunakan simulasi itu, kata dia, sekolah sudah siap saat dimulai kegiatan belajar mengajar secara tatap depan. “Jadi bukan ‘kelinci percobaan’, sebab sudah kami siapkan semuanya anyar anak masuk sekolah. Jika madrasah tidak mau melakukannya maka kudu ada kajian. Sama halnya dengan orang tua yang menolak pembelajaran tatap muka, ” ucapnya.

Dia mencontohkan saat anak dengan komorbid atau obesitas, kalau orang tua menolak masuk sekolah oleh karena itu diizinkan. Namun, lanjut dia, diharapkan tindakan orang tua juga relevan dengan tidak mengajak anaknya jalan-jalan.

“Jadi masyarakat kudu membuka wawasannya bukan semua anak masuk, hanya 25 persen selalu. Karena ini uji coba so pasti saat masuk nanti belum wajar. Mulai dari jam pembelajaran mematok materi ajarnya, ” katanya.

Terkait dengan penunjukan madrasah swasta untuk simulasi, kata Sudarminto, hal itu sebagai wujud melihat kesiapan sekolah menerapkan protokol kesehatan yang sudah dibuat. “Sebulan sebelumnya sudah diminta menyusun protokol kesehatan di sana. Dan jika madrasah tidak punya protokol pastinya mau dilarang mengadakan pembelajaran tatap muka, ” katanya.

Berdasarkan hasil simulasi, Sudarminto menekankan sekolah agar lebih siap mengatur kecermatan waktu pemeriksaan suhu badan biar tidak terjadi penumpukan siswa zaman datang ke sekolah.

“Simulasi ini hanya diikuti empat anak, kalau ratusan anak itu bagaimana? Jadi alat pengukur suhu bisa di tangan dan tak perlu ditunjukkan biar tidak perlu menghabiskan waktu lama, ” kata pendahuluan dia.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Wilayah Surabaya Timur, Wiwik Wahyuningsih, mengungkapkan sebelum penunjukan sekolah sebagai proyek percontohan, secara rutin Dinas Pendidikan Kota Surabaya melangsungkan pendataan, pembelajaran, dan evaluasi daring. “Kemudian seluruh SMP negeri & swasta Minggu lalu ada gambar call dengan wali kota terkait kesiapan sekolah jika ada pembelajaran. Kemudian ditunjuk tiap wilayah kudu ada perwakilan, ” katanya.

sumber: Antara